Laporan Praktikum
Ilmu Hama Tumbuhan Dasar

PENGAMATAN HAMA DAN GEJALA KERUSAKAN
PADA KOMODITAS PERTANIAN DI DAERAH CINANGNENG

Disusun oleh:
Ismawati (A34080080)

Dosen :
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.
Dr. Ir. I Wayan Winasa, M.Sc.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hama merupakan organisme yang mengganggu tanaman baik tanaman pertanian maupun tanaman perkebunan dan juga dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi baik dalam hal kualitas maupun kuantitas dari tanaman tersebut. Kebanyakan tipe-tipe tumbuhan, termasuk segala jenis hasil-hasil tanaman yang sedang tumbuh diserang dan dirusak oleh serangga. Kerusakan yang disebabkan oleh serangga sebagian besar disebabkan karena dimakan oleh serangga tersebut untuk kelangsungan hidupnya atau bertelurnya pada tumbuhan. Kerusakan ini bervariasi dari pengurangan hasil panennya sampai ke penghacuran sempurna dari tumbuhan tersebut. Hama terdapat dalam berbagai golongan mulai dari monofag,oligofag dan polifag biasanya menyerang tanaman dari satu famili dalam berbagai spesies, menyerang tanaman beberapa famili dalam berbagai spesies dan juga menyerang tanaman berbagai spesies dalam satu famili. Hama di suatu areal dapat memiliki jumlah populasi yang tinggi jika tidak terdapat musuh alami dan juga dalam suatu areal hama dapat memiliki populasi yang sedikit jika terdapat musuh alami disekitar areal tersebut baik predator maupun parasitoid.

B. Tujuan
Fieldtrip yang dilakukan di Cinangneng pada tanggal 01 Mei 2010 bertujuan untuk mengamati berbagai hama yang menyerang areal tanaman pertanian secara langsung. Pengamatan langsung yang dilakukan di lapang tersebut juga bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala yang dapat ditimbulkan oleh hama serta mengetahui berbagai inang yang merupakan tempat hidup dan makan serangga hama tersebut. Selain itu, pengamatan lansung di lapang juga dilakukan untuk mengetahui parasitoid, predator atau musuh alami di alam yang berguna sebagai agens pengendali hayati bagi hama yang menyerang suatu tanaman.

BAHAN dan METODE

A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan langsung di lapang ini adalah buku dan alat tulis untuk mencatat semua hama yang ditemukan di lapang, serta mencatat gejala yang ditimbulkanya. Sedangkan bahan yang digunkan adalah bahan tanaman yang ada di lapang yaitu, padi, terung, bawang daun, sawi (caisin), oyong dan jambu Bangkok.

B. Metode
Metode yang dilakukan adalah dengan cara pengamatan secara langsung ke areal pertanaman bahan tanaman yang terserang. Mulai dari pertanaman padi sampai jambu Bangkok dengan mengamati dan mencatat hama yang ditemukan dan mencatat gejala-gejala yang ditimbulkan oleh hama tersebut.


HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No Komoditas Hama Gejala Keterangan
1. Sawi (Caisin)
Famili: Cruciferae Ordo : Diptera
Famili: Agromyzidae
Liriomyza sp. Korokan

Ordo : Othoptera
Famili : Acrididae
Gerigitan
Ordo : Coleoptera
Famili: Coccinellidae
Lubang pada daun
Ordo : Coleoptera
Famili: Staphylinidae Lubang pada daun
Ordo : Hemiptera
Famili : Delphacidae Klorosis dan nekrosis
2. Oyong Ordo : Diptera
Famili: Agromyzidae
Liriomyza sp. (larva) Korokan linear

Ordo : Othoptera
Famili : Acrididae
Gerigitan

Ordo : Lepidoptera (larva)
Gerigitan
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
Aulacopora sp.(larva) Gerigitan
Ordo : Thysanoptera
Famili : Tripidae Bercak keperakan
Ordo : Hemiptera
Famili : Cicadellidae
Empoasca sp. Nekrosis

3. Terong Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae Gerigitan

Ordo : Coleoptera
Famili : Coccinellidae (larva) Lubang pada daun

Ordo : Hemiptera
Famili : Cicadellidae Nekrosis

Ordo : Diptera
Famili: Agromyzidae
Liriomyza sp. (larva) Korokan
4. Padi (vegetatif) Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Pomacea canaliculata Gerigitan (ada telur pada batang padi)

Ordo : Diptera
Famili: Agromyzidae
Liriomyza sp. (larva) Korokan

Ordo : Lepidoptera
Famili : Pyralidae
Scirpophaga incertulas Gerekan pada batang
Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae Gerigitan

Ordo : Hemiptera
Famili: Pentatomidae Klorosis
Ordo : Lepidoptera
Famili: Hesperiidae
Pelopidas sp. Daun yang melipat
Ordo : Hemiptera
Famili: Cicadellidae
Nephotettix sp. Nekrosis
5. Padi (generatif) Ordo : Coleoptera
Famili : Coccinellidae (larva) Gerigitan

Ordo : Hemiptera
Famili : Alydidae
Leptocorisa oratorius Klorosis dan nekrosis

Ordo : Lepidoptera
Famili : Hesperiidae
Pelopidas sp. Daun yang melipat
Ordo : Hemiptera
Famili : Pentatomidae Klorosis

6. Daun bawang Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae Gerigitan

Ordo : Diptera
Famili: Agromyzidae
Liriomyza sp. (larva) Korokan linear

Ordo : Hemiptera
Famili : Cicadellidae Klorosis dan nekrosis
Ordo : Lepidotera
Famili : Noctuidae
Spodoptera exigua Lubang pada daun
7. Jambu Bangkok Ordo : Coleoptera
Famili: Atelabidae Daun yang menggulung

Ordo : Lepidoptera
Famili : Psychidae Window paning

Ordo : Lepidoptera
Famili : Pyralidae Daun yang terjalin

Ordo : Diptera
Famili : Tephritidae
Bactrocera dorsalis Lubang pada buah
Ordo : Lepidoptera
Famili: Lasiocampidae
Traballa sp. Gerigitan

Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae Gerigitan

Pembahasan
Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya dan pengalaman pribadi. Pengkategorian serangga hama didasarkan pada sumber daya yang dipengaruhinya. Tiga kategori umum hama serangga adalah hama estetika, hama kesehatan, serta hama pertanian dan kehutanan. Hama estetika mengganggu suasana keindahan, kenyamanan, dan kenikmatan manusia. Hama kesehatan menimbulkan dampak pada kesehatan dan kesejahteraan manusia berupa luka, ketidaknyamanan, stress, sakit, pingsan, dan bahkan kematian. Sekitar 50% dari seluruh jenis serangga penghuni bumi merupakan serangga herbivora yang dapat merusak tanaman pertanian dan kehutanan secara langsung atau pun tidak langsung. (http://massofa.wordpress.com)
Fieldtrip ini bertujuan untuk melakukan pengamatan secara langsung yang dilakukan terhadap beberapa jenis komoditas tanaman yang terdapat di desa Cinangneng dengan mengamati jenis hama yang menyerang dan gejala kerusakan yang disebabkan oleh hama yang menyerang tanaman tersebut. Tanaman yang diamati secara langsung antara lain: padi, terung, bawang daun, caisin, oyong dan jambu Bangkok.
Pada tanaman padi, dilakukan pengamatan pada dua tipe pertumbuhan yakni pada fase pertumbuhan vegetatif dan fase pertumbuhan generatif. Pada fase pertumbuhan vegetatif gejala yang terjadi yakni gejala sundep yang disebabkan oleh hama penggerek batang padi kuning ( Scirpophaga incertulas), dimana hama penggerek batang padi ini menyerang bagian tengah padi. Gejala sundep ini memiliki warna cram coklat pada bagian batang yang terserang serta mengeluarkan bau yang tidak sedap karena adanya pembusukkan oleh air pada bagian bawah batang padi yang mengalami penggerekan. Selain itu ditemui juga Pelopidas sp. (Lepidoptera:Hesperiidae) dengan gejala adanya lipatan pada daun padi, keong mas ( Pomacea caniculata) dengan gejala gerigitan, Wereng hijau (Nephotettix spp) terutama menyerang daun dan berperan sebagai vektor penyakit virus tungro. arva Liriomyza sp. (Diptera:Agromyzidae) yang menyebabkan gejala korokan, Pentatomidae (Hemiptera) yang menyebabkan gejala klorosis dan Acrididae (Orthoptera)yang menyebabkan gejala gerigitan, Pengendalian diutamakan dengan menanam varietas yang resisten, pengaturan pola tanam, penanaman secara serentak, rotasi tanaman secara serentak. Pembakaran sisi tanaman dapat memutus siklus hidup wereng coklat.
dan kepiding tanah Scotinophora dari famili Pentatomidae.
Gejala pada fase generatif disebut gejala beluk yang disebabkan oleh hama dari ordo Hemiptera. Gejala ini menyebabkan bulir padi kosong dan berwarna coklat keputih-putihan dan juga batang padi yang terserang menjadi tegak karena bulir padi kosong dimana tangkai malai dalam batang dipotong larva sehingga malai padai menjadi hampa. Selain itu ada juga Walang sangit (Leptocoriza oratorius) baik nimfa maupun imago melakukan serangan dengan cara menghisap cairan buah, menyebabkan buah jadi hampa. Bekas tusukannya berwarna bercak putih dan lama-kelamaan menjadi coklat atau hitam karena ditumbuhi cendawan Helminthosporium. Pengendalian dengan melakukan penanaman serentak, atau penyemprotan insektisida, Wereng coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman muda yang terserang akan menguning dan mati, tanaman tua pertumbuhannya akan merana dan bulir padi akan hampa. Wereng coklat menghisap cairan tanaman sehingga pada tanaman padi yang terserang secara luas terlihat gejala terbakar (hopper burn) yang sering disebut puso.Pengendalian diutamakan dengan menanam varietas yang resisten, pengaturan pola tanam, penanaman secara serentak, rotasi tanaman secara serentak. Pembakaran sisi tanaman dapat memutus siklus hidup wereng coklat.
Tanaman terung yang diamati terlihat adanya beberapa hama yang menyerang yakni Liriomyza sp (Diptera:Agromyzidae) menyebabkan gejala korokan, Acrididae (Orthoptera) menyebabkan gejala gerigitan, larva Coccinellidae (Coleoptera) dapat menyebabkan gejala lubang pada daun dan Cicadellidae (Hemiptera) dapat menyebabkan gejala nekrosis.
Pada tanaman bawang daun yang diamati terdapat beberapa hama yang menyerang tanaman tersebut, antara lain Acrididae (Orthoptera) menyebabkan gejala gerigitan, larva Liriomyza sp. (Diptera:Agromyzidae) menyebabkan gejala korokan linear, Cicadellidae (Hemiptera) menyebabkan gejala klorosis dan nekrosis, dan Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) menyebabkan gejala lubang pada daun.
Gejala yang sering timbul pada sawi atau caisin yang merupakan serangan dari hama tanaman yakni gejala korokan, lubang pada daun, dan gejala klorosis serta nekrosis. Gejala korokan disebabkan oleh Liriomyza sp. (Diptera:Agromyzidae). Liriomyza sp. ini menyerang daun sawi dan hanya meninggalakan epidermis atas dan epidermis daunnya saja. Lubang pada daun disebabkan hama dari ordo Coleoptera, yaitu Coccinellidae dan Staphylinidae. Gejala nekrosis dan klorosis pada sawi disebabkan oleh wereng coklat (Hemiptera:Delphacidae). Gejala klorosis dan nekrosis ini terjadi karena wereng coklat menghisap cairan yang ada pada jaringan daun sawi. Gejala gerigitan disebabkan oleh Acrididae ( Ordo: Othoptera).
Pada komoditas Oyong yang diamati, ditemukan beberapa hama penting yang menyerang tanaman tersebut yakni oleh Liriomyza sp. (Diptera:Agromyzidae) yang menyebabkan gejala korokan linear, gejala gerigitan yang disebabkan oleh larva Lepidoptera, Acrididae (Orthoptera), larva Aulacopora sp. (Coleoptera: Chrysomelidae), gejala keperakan yang disebabkan oleh Triphidae (Thysanoptera), trips yang menyebabkan gejala keperakkan ini selalu bersembunyi di balik daun oyong, karena merupakan hama yang tidak bisa terkena cahaya matahari secara langsung dan gejala nekrosis yang disebabkan oleh Empoasca sp.( Hemiptera:Cicadellidae). Empoasca sp. Ini merupakan hama yang paling banyak menyerang tanaman oyong.
Serangan hama pada jambu Bangkok menimbulkan gejala gerigitan, daun menggulung, window panning, daun terjalin dan lubang pada buah. Hama yang menyebabkan gejala gerigitan yaitu Traballa sp. (Lasiocampidae: Lepidoptera) dan Acrididae (O: Orthoptera), gejala daun menggulung disebabkan oleh Atelabidae (Coleoptera), window panning yang disebakan oleh Psychidae (Lepidoptera), gejala daun terjalin yang disebabkan oleh Pyralidae (Lepidoptera), dan gejala lubang pada buah yang disebabkan oleh Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae).

KESIMPULAN

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan dan di areal pertanaman didominasi oleh serangga. Hama juga makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Pada tujuh komoditas yang diamati hampir seluruh tanaman diserang oleh hama dan gejala yang ditimbulkan pada masing-masing tanaman memiliki perbedaan. Pengendalian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengatasi kerugian yang ditimbulkan dari serangan hama ini.

DAFTAR PUSTAKA

Haryanto, E., T. Suhartini, dan E. Rahayu. 2001. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta. 117 p.
[Anonim] http://massofa.wordpress.com (08 Mei 2010)
[Anonim] http:// www.scribd.com/doc/8735556/Jambu-Biji (08 Mei 2010)

Nama : Ismawati Tanggal : 09 Maret 2010
NRP : A34080080 Bahan Tanaman : Beta vulgaris
Mayor : Proteksi Tanaman Asisten : 1. Mafrikhul M.
Kelompok : 7 (G34052008)
2. Yan Maulana
(G34061251)

Komposisi Kimia Membran Sel dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permeabilias

Tujuan
Melihat pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran.

Pendahuluan
Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti. Sel tumbuhan dibatasi oleh dua lapis pembatas yang sangat berbeda komposisi dan strukturnya. Lapisan terluar adalah dinding sel yang tersusun atas selulosa, lignin, dan polisakarida lain. (Yatim, 1987).
Lapisan dalam sel tumbuhan adalah membran sel. Membran sel terdiri atas dua lapis molekul fosfolipid. Bagian ekor dengan asam lemak yang bersifat hidrofobik (non polar), kedua lapis molekul tersebut saling berorientasi kedalam, sedangkan bagian kepala bersifat hidrofilik (polar), mengarah ke lingkungan yang berair. Komponen protein terletak pada membran dengan posisi yang berbeda-beda. Beberapa protein terletak periferal, sedangkan yang lain tertanam integral dalam lapis ganda fosfolipid. Membran seperti ini juga terdapat pada berbagai organel di dalam sel, seperti vakuola, mitokondria, dan kloroplas. (Anonimous, 2008).
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Prawiranata, 1981).

Hasil pengamatan

a. Tabel 1. Nilai Absorban Perlakuan Fisik (Panas)
No Perlakuan Nilai absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. 65 ºC 0,303 Å
3. 60 ºC 0,191 Å
4. 50 ºC 0,106 Å
5. 45 ºC 0,078 Å

b. Tabel 2. Nilai Absorban Perlakuan Fisik (Dingin)
No Perlakuan Nilai absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. Dingin 0,807 Å

c. Tabel 3. Nilai Absorban Perlakuan Kimia
No Perlakuan Nilai Absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. Methanol 1,427 Å
3. Aseton 0,515 Å
4. Benzen 0,346 Å

Pembahasan
Dari tabel diatas pada perlakuan panas dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu yang diberikan maka nilai absorban akan semakin besar. Terlihat nilai absorbansi pada suhu 65˚C adalah 0,303Å, nilai ini lebih besar dibandingkan dengan suhu yang lainnya. Hal ini juga terlihat pada grafik adanya penurunan nilai absorbansi pada setiap penurunan suhu yang diberikan pada jaringan umbi/bit gula (Beta vulgaris). Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu, menyebabkan membran semakin rusak akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar. Seperti diketahui bahwa komponen membran tersusun atas lipid dan protein. Jika suhunya terlalu tinggi, protein akan mengalami denaturasi kemudian meyebabkan isi di dalam sel ke luar karena protein penyusun membran selnya rusak. Akan tetapi pada percobaan perlakuan panas ini didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan literatur. Pada suhu 50˚C niali absorban yang diperoleh yaitu 0,106Å dan pada suhu 45˚C diperoleh 0,078Å , dimana pada suhu keduanya lebih rendah daripada kontol. Hasil ini menunjukkan bahwa larutan berdifusi ke dalam sel.
Kesalahan dalam percobaan ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain jaringan yang dipotong tidak sama besar. Kemudian pada waktu pemanasan, waktu yang digunakan tidak efisien karena setiap kelompok menggunakan penangas air yang sama. Jadi saat pengambilan jaringan tidak tepat waktunya satu menit, kebanyakan sudah lewat dari waktu semestinya karena praktikan harus antri.
Pada perlakuan dingin, nilai absorban yang diperoleh dari pengukuran dengan panjang gelombang 525nm yaitu 0,807 Å. Jika dibandingkan dengan kontrol, maka nilai absorban pada perlakuan dingin lebih besar. Hal ini berarti membran mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan suhu normal. Suhu ini mungkin terlalu ekstrim bagi ketahanan membran karena membran tidak tahan terhadap suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Pada perlakuan kimia dapat diketahui bahwa nilai absorban yang paling besar yaitu pada perlakuan dengan senyawa kimia methanol dengan nilai sebesar 1,427Å pada panjang gelombang 525 nm, sedangkan yang paling kecil adalah 0,346Å pada perlakuan senyawa kimia benzen dengan panjang gelombang yang sama. Pada perlakuan dengan methanol, nilai absorban yang didapat cukup besar karena sel mengalami difusi ke luar sel. Terjadinya difusi dari dalam ke luar sel ini disebabkan karena membran sel mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Kerusakan ini disebabkan karena membran sel tidak tahan terhadap methanol.
Jika dibandingkan dengan kontrol, hasil yang didapatkan sangat tidak sesuai, karena seharusnya air murni sebagai kontrol absorbannya lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya karena belum adanya tambahan perlakuan. Nilai absorban kontrol lebih besar dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua perlakuan yang diberikan terhadap permeabilitas membran sel memberikan pengaruh berbeda-beda akibat perlakuan yang diberikan, baik perlakuan panas, perlakuan dingin, naupun perlakuan dengan senyawa kimia.

Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa membran sel akan mengalami kerusakan jika diberikan perlakuan suhu yang ekstrim. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kerusakan pada membran akan semakin parah karena membran sel tidak tahan terhadap keadaan yang terlalu panas ataupun terlalu dingin. Pengaruh permeabilitas membran berbeda-beda untuk setiap perlakuan panas, perlakuan dingin, dan perlakuan dengan senyawa kimia.

Daftar Pustaka
Anonimous. 2008. Membran Plasma.
Anonimous. 2008. Permeabilitas. http://bima.ipb.ac.id/~tpb-
ipb/materi/prak_biologi. 07 Maret 2008.
Prawinata, W. 1981. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : ITB.
Tim Fisiologi Tumbuhan. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bogor:
Institut Pertanian Bogor
Yatim, W. 2000. Embriologi. Semarang : CV. Tarsito.
[ Anonim]. 2010. Mekanisme Transpor Melalui Membran
http://www.crayonpedia.org/mw/6.(13 Maret 2010)

Jawaban pertanyaan
1. Pengaruh perlakuan panas terhadap permeabilitas sel yakni semakin tinggi suhu yang diberikan pada jaringan umbi/bit gula (Beta vulgaris) maka nilai absorban yang diperoleh akan semakin besar. Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu, menyebabkan membran semakin rusak akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar. Jika suhunya terlalu tinggi, protein akan mengalami denaturasi kemudian meyebabkan isi di dalam sel ke luar karena protein penyusun membran selnya rusak.
2. Pengaruh perlakuan dingin terhadap permeabilitas sel yakni suhu yang dingin atau dibawah suhu normal mengakibatkan kerusakan membran yang lebih parah dibandingkan dengan suhu normal. Membran tidak tahan terhadap suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
3. Diantara ketiga senyawa kimia, ikatan polar yang paling kuat yaitu pada senyawa methanol. Dengan ururana ikatan polar benzen < aseton < metanol. Diketahui bahwa pada membran sel terdapat lapisan protein yang membentuk struktur globular yang terikat pada permukaan membran yang disebut sebagai protein ekstrinsink, protein ini melintas membran membentuk kanal protein (protein transport). Kanal protein ini merupakan pori yang hidrofilik yang memungkinkan dilewati bahan terlarut polar seperti ion. Maka jelaslah ikatan polar pada methanol yang paling tinggi yang paling melisis membran sel.
4. Adanya sifat hidrofobik di bagian tengah lapisan lipid membran plasma menyebabkan membran tersebut tidak mudah ditembus oleh molekul polar, sehingga membran sel mencegah keluarnya komponen-komponen dalam sel yang larut dalam air. Namun, sel juga memerlukan bahan-bahan nutrisi dan membuang limbahnya ke luar sel. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sel harus mengembangkan suatu sistem/mekanisme khusus untuk transpor melintasi membran sel. Sedangkan pada hidrofilik bersifat polar, sehingga dapat ditembus oleh molekul-molekul atau senyawa kimia lainnya. Maka baik hodropobik maupun hidrofilik sangat berpengaruh pada permeabilitas sel, karena keduanya berfungsi untuk menyaring moleku-molekul atau zat-zat yang akan masuk ke dalam membran plasma.

SIKLUS HIDUP
NEMATODA PARASIT TANAMAN ( Meloidogyne spp. )

Nama : Ismawati
NRP : A34080080

Dosen Pengajar :Dr. Ir. Supraman M.Si

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Nematoda termasuk filum hewan, didalamnya termasuk nematoda parasit tanaman dan hewan, serta spesies nematoda yang hidup bebas. Nematoda parasit tanaman merupakan parasit obligat, mengambil nutrisi hanya dari sitoplasma sel tanaman hidup. Memiliki ukuran yang sangat kecil, tetapi menyebabkan kehancuran pada tanaman pangan dan hortikultura di seluruh dunia sehingga menyebabkan kerugian milyaran dollar.
Beberapa nematoda parasit tanaman adalah ektoparasit, hidup di luar inangnya. Spesies jenis ini menyebabkan kerusakan berat pada akar dan dapat menjadi vektor virus yang penting. Spesies lain, ada yang hidup di dalam akar, bersifat endoparasit migratori dan sedentari. Parasit migratori bergerak melalui akar dan menyebabkan nekrosis, sedangkan yang endoparasit sedentari dari famili Heteroderidae menyebabkan kehancuran yang paling banyak di seluruh dunia

1.2 Tujuan
Melakukan identifikasi dan mengamati siklus hidup nematoda Meloidogyne spp (nematoda puru akar) mulai dari fase telur, fase juvenil sampai fase dewasa.

BAB II
BAHAN dan METODE

2.1 Bahan yang digunakan adalah:
 Cawan syracus
 Kaca preparat
 Geals objek
 Kawat pemancing
 Air aquades
 Pewarna Acid Fuchsin untuk mewarnai nematoda
 Mikroskop cahaya
 Akar tanaman yang terserang Meloidogyne spp

2.2 Metode:
Metode yang digunakan adalah metode pemancingan dengan mengamati siklus hidup nematoda Meloidogyne spp pada akar tanaman yang terserang, dengan menggunakan pewarna Acid Fucshin yang berfungsi untuk memperjelas bayangan nematoda di bawah mikroskop cahaya.

BAB III
HASIL dan PEMBAHASAN

3.1 Hasil gambar dan literatur
a. Gambar siklus hidup nematoda Meloidogyne yang didapat dari pengama
Fase telur

Fase dewasa Fase juvenil 1

Fase juvenil4 Fase juvenil 2

Fase juvenil 3

b. Gambar literatur siklus hidup nematoda Meloidogyne spp

Keterangan gambar :
Telur satu sel ¬¬– membelah dua (bermitosis) – membelah empat (bermeiosis) – multisel – juvenil 1, membentuk cacing (ganti kulit) – juvenil 2, mulai keluar dari telur (ganti kulit II) – juvenil 3, berjalan di dalam tanah (ganti kulit III) – juvenil 4, betina lebih besar daripada jantan yang menunjukkan akan menggelembung menghasilkan telur kembali.

3.2 Pustaka

Umumnya perkembangan nematoda parasit tanaman terdiri dari tiga fase yaitu juvenil I sampai juvenil IV dan nematode dewasa. Semua spesies nematoda puru akar memiliki siklus hidup yang sama. Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18 – 21 hari atau 3 – 4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin (Agrios, 1996).
Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300- 800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur.
Juvenil tingkat II menetas dari telur yang kemudian bergerak menuju tanaman inang untuk mencari makanan, terutama bagian ujung akar di daerah meristem, larva kemudian menembus korteks akibatnya pada tanaman yang rentan terjadi infeksi dan menyebabkan pembesaran sel-sel. Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang menjadi makanannya, larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa yeng berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya.
Telur nematoda Meloidogyne spp. berbentuk bulat lonjong dengan ukuran (62-128 mikron) x (30 -50 mikron). Telur-telurnya diletakkan dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh sel-sel kelenjar rektum dan setalah pembuahan telur diletakkan dalam glatin dan dilepaskan secara bergerombol melalui vulpa. Tidak ada telur yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam tubuh nematoda. Larva instar I berada dalam telur dan menetas menjadi larva instar II (375-500 mikron) x (12-15 mikron) dan larva ini bergerak diantara sel-sel tanaman dan tiba didekat silinder pusat, di tempat tersebut larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang akan menjadi makanannya, larva melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya tampa makan, selanjutnya menjadi jantan dan betina dewasa.
Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3 -0,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12 – 15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, sedangkan nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.
Nematoda puru akar memiliki banyak tanaman inang dan menyerang sebagian besar tanaman yang dibudidayakan, hampir semua tanaman sayuran dan lebih dari 1700 spesies tanaman lainnya. Meloidogyne spp. merupakan salah satu patogen bawah tanah yang menjadi kendala dalam pengembangan sayuran tingkat tinggi di daerah tropis dan inang utamanaya adalah wortel, mentimun, labu, kentang, kubis, terong, bayam dan tomat. Akibat kemampuannya dalam mneginfeksi relatif lebih besar dan kisaran tanaman inang yang luas maka Meloidogyne spp. merupakan genus penting dari nematoda parasit tanaman. Tanaman yang terserang menjadi kurus, kerdil, hasil rendah dan kualitas berkurang (Hussey et al., 2002).
Menurut Agrios (1996), bahwa nematoda puru akar dapat menyebar dengan perantara partikel tanah, alat pertanian, air irigasi, banjir atau drainase, kaki hewan dan badai debu yang menyebarkan nematoda secara lokal, sedangkan untuk yang jarak jauh melalui produk pertanian dan bibit tanaman.
Nematoda puru akar secara ekonomi cukup penting pada tanaman Solanoceae terutama di daerah tropis. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 500 – 800 larva Meloidogyne sp perkilogram tanah dapat menurunkan produksi Solanoceae sebesar 40 %.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah. Suhu mempengaruhi perkembangan nematoda terhadap penetasan telur, reproduksi, pergerakan dan perkembangannya. Pada umumnya parasit tanaman tidak aktif pada suhu rendah yaitu 5 – 15 oC dan suhu tinggi yaitu 30 – 40 o C, suhu 25 – 28 o C adalah suhu optimum untuk infeksi multiplikasi serta peningkatan puru
Tipe tanah mempengaruhi perkembangan nematoda mislnya sifat tekstur, aerasi, kelembaban, pH, kandungan bahan organik dan anorganik tanah. Nematoda membutuhkan kelembaban yang lembab dan aerasi yang baik. Aerasi berhubungan erat dengan kandungan air tanah, aerasi akan menurun dengan meningkatnya kandungan air tanah sehingga ketersediaan oksigen dalam tanah berkurang. Pertukaran udara dalam tanah mempengaruhi pernafasan nematoda. Perkembangan nematoda akan baik jika keadaan udara dalam tanah cukup. Pada kondisi oksigen rendah dapat menghambat perkembangan dan penetasan telur. Produksi dan pergantian kulit nematoda kebanyakan sangat sensitif terhadap oksigen yang rendah, sedangkan dampak terhadap penetasan telur kurang peka (Cook et al., 2002).
Puru akar merupakan ciri khas dari serangan nematoda Meloidogyne. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman sel-sel ini membesar dua atau tiga kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan mengakibatkan pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil (Robert et al., 1999) .

BAB IV
KESIMPULAN

Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18 – 21 hari atau 3 – 4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300- 800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Agrios. G.N.1997. Plant Pathology. 4th ed. Academic Press, Toronto.
Cook. R & G.R. Noel. Cyst Nematodes : Globodera and Heterodera species. In. Starr.
J.L ; R. Cook & J. Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic
Nematodes. CABI Publishing.
Hussey. R.S & G.J.W. Janssen. Root-knot Nematodes Meloidogyne species. In. Starr.
J.L ; R. Cook & J. Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic
Nematodes. CABI Publishing.
Roberts. P.A. Concepts and Consequences of Resistance. In. Starr. J.L ; R. Cook & J.
Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic Nematodes. CABI
Publishing.
[Anonim]. 2009. Nematoda Puru Akar-http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/nematoda-puru-akar-meloidogyne-sp.html (22 November 2009)
[Anonim]. 2009. PENGGUNAAN TANAMAN RESISTEN: Suatu Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman-http://library.usu.ac.id/download/fp/hpt-lisnawita.pdf
(22 November 2009)