Nama : Ismawati Tanggal : 09 Maret 2010
NRP : A34080080 Bahan Tanaman : Beta vulgaris
Mayor : Proteksi Tanaman Asisten : 1. Mafrikhul M.
Kelompok : 7 (G34052008)
2. Yan Maulana
(G34061251)

Komposisi Kimia Membran Sel dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permeabilias

Tujuan
Melihat pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran.

Pendahuluan
Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti. Sel tumbuhan dibatasi oleh dua lapis pembatas yang sangat berbeda komposisi dan strukturnya. Lapisan terluar adalah dinding sel yang tersusun atas selulosa, lignin, dan polisakarida lain. (Yatim, 1987).
Lapisan dalam sel tumbuhan adalah membran sel. Membran sel terdiri atas dua lapis molekul fosfolipid. Bagian ekor dengan asam lemak yang bersifat hidrofobik (non polar), kedua lapis molekul tersebut saling berorientasi kedalam, sedangkan bagian kepala bersifat hidrofilik (polar), mengarah ke lingkungan yang berair. Komponen protein terletak pada membran dengan posisi yang berbeda-beda. Beberapa protein terletak periferal, sedangkan yang lain tertanam integral dalam lapis ganda fosfolipid. Membran seperti ini juga terdapat pada berbagai organel di dalam sel, seperti vakuola, mitokondria, dan kloroplas. (Anonimous, 2008).
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Prawiranata, 1981).

Hasil pengamatan

a. Tabel 1. Nilai Absorban Perlakuan Fisik (Panas)
No Perlakuan Nilai absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. 65 ºC 0,303 Å
3. 60 ºC 0,191 Å
4. 50 ºC 0,106 Å
5. 45 ºC 0,078 Å

b. Tabel 2. Nilai Absorban Perlakuan Fisik (Dingin)
No Perlakuan Nilai absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. Dingin 0,807 Å

c. Tabel 3. Nilai Absorban Perlakuan Kimia
No Perlakuan Nilai Absorban pada 525 nm
1. Kontrol 0,179 Å
2. Methanol 1,427 Å
3. Aseton 0,515 Å
4. Benzen 0,346 Å

Pembahasan
Dari tabel diatas pada perlakuan panas dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu yang diberikan maka nilai absorban akan semakin besar. Terlihat nilai absorbansi pada suhu 65˚C adalah 0,303Å, nilai ini lebih besar dibandingkan dengan suhu yang lainnya. Hal ini juga terlihat pada grafik adanya penurunan nilai absorbansi pada setiap penurunan suhu yang diberikan pada jaringan umbi/bit gula (Beta vulgaris). Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu, menyebabkan membran semakin rusak akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar. Seperti diketahui bahwa komponen membran tersusun atas lipid dan protein. Jika suhunya terlalu tinggi, protein akan mengalami denaturasi kemudian meyebabkan isi di dalam sel ke luar karena protein penyusun membran selnya rusak. Akan tetapi pada percobaan perlakuan panas ini didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan literatur. Pada suhu 50˚C niali absorban yang diperoleh yaitu 0,106Å dan pada suhu 45˚C diperoleh 0,078Å , dimana pada suhu keduanya lebih rendah daripada kontol. Hasil ini menunjukkan bahwa larutan berdifusi ke dalam sel.
Kesalahan dalam percobaan ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain jaringan yang dipotong tidak sama besar. Kemudian pada waktu pemanasan, waktu yang digunakan tidak efisien karena setiap kelompok menggunakan penangas air yang sama. Jadi saat pengambilan jaringan tidak tepat waktunya satu menit, kebanyakan sudah lewat dari waktu semestinya karena praktikan harus antri.
Pada perlakuan dingin, nilai absorban yang diperoleh dari pengukuran dengan panjang gelombang 525nm yaitu 0,807 Å. Jika dibandingkan dengan kontrol, maka nilai absorban pada perlakuan dingin lebih besar. Hal ini berarti membran mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan suhu normal. Suhu ini mungkin terlalu ekstrim bagi ketahanan membran karena membran tidak tahan terhadap suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Pada perlakuan kimia dapat diketahui bahwa nilai absorban yang paling besar yaitu pada perlakuan dengan senyawa kimia methanol dengan nilai sebesar 1,427Å pada panjang gelombang 525 nm, sedangkan yang paling kecil adalah 0,346Å pada perlakuan senyawa kimia benzen dengan panjang gelombang yang sama. Pada perlakuan dengan methanol, nilai absorban yang didapat cukup besar karena sel mengalami difusi ke luar sel. Terjadinya difusi dari dalam ke luar sel ini disebabkan karena membran sel mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Kerusakan ini disebabkan karena membran sel tidak tahan terhadap methanol.
Jika dibandingkan dengan kontrol, hasil yang didapatkan sangat tidak sesuai, karena seharusnya air murni sebagai kontrol absorbannya lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya karena belum adanya tambahan perlakuan. Nilai absorban kontrol lebih besar dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua perlakuan yang diberikan terhadap permeabilitas membran sel memberikan pengaruh berbeda-beda akibat perlakuan yang diberikan, baik perlakuan panas, perlakuan dingin, naupun perlakuan dengan senyawa kimia.

Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa membran sel akan mengalami kerusakan jika diberikan perlakuan suhu yang ekstrim. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kerusakan pada membran akan semakin parah karena membran sel tidak tahan terhadap keadaan yang terlalu panas ataupun terlalu dingin. Pengaruh permeabilitas membran berbeda-beda untuk setiap perlakuan panas, perlakuan dingin, dan perlakuan dengan senyawa kimia.

Daftar Pustaka
Anonimous. 2008. Membran Plasma.
Anonimous. 2008. Permeabilitas. http://bima.ipb.ac.id/~tpb-
ipb/materi/prak_biologi. 07 Maret 2008.
Prawinata, W. 1981. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : ITB.
Tim Fisiologi Tumbuhan. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bogor:
Institut Pertanian Bogor
Yatim, W. 2000. Embriologi. Semarang : CV. Tarsito.
[ Anonim]. 2010. Mekanisme Transpor Melalui Membran
http://www.crayonpedia.org/mw/6.(13 Maret 2010)

Jawaban pertanyaan
1. Pengaruh perlakuan panas terhadap permeabilitas sel yakni semakin tinggi suhu yang diberikan pada jaringan umbi/bit gula (Beta vulgaris) maka nilai absorban yang diperoleh akan semakin besar. Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu, menyebabkan membran semakin rusak akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar. Jika suhunya terlalu tinggi, protein akan mengalami denaturasi kemudian meyebabkan isi di dalam sel ke luar karena protein penyusun membran selnya rusak.
2. Pengaruh perlakuan dingin terhadap permeabilitas sel yakni suhu yang dingin atau dibawah suhu normal mengakibatkan kerusakan membran yang lebih parah dibandingkan dengan suhu normal. Membran tidak tahan terhadap suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
3. Diantara ketiga senyawa kimia, ikatan polar yang paling kuat yaitu pada senyawa methanol. Dengan ururana ikatan polar benzen < aseton < metanol. Diketahui bahwa pada membran sel terdapat lapisan protein yang membentuk struktur globular yang terikat pada permukaan membran yang disebut sebagai protein ekstrinsink, protein ini melintas membran membentuk kanal protein (protein transport). Kanal protein ini merupakan pori yang hidrofilik yang memungkinkan dilewati bahan terlarut polar seperti ion. Maka jelaslah ikatan polar pada methanol yang paling tinggi yang paling melisis membran sel.
4. Adanya sifat hidrofobik di bagian tengah lapisan lipid membran plasma menyebabkan membran tersebut tidak mudah ditembus oleh molekul polar, sehingga membran sel mencegah keluarnya komponen-komponen dalam sel yang larut dalam air. Namun, sel juga memerlukan bahan-bahan nutrisi dan membuang limbahnya ke luar sel. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sel harus mengembangkan suatu sistem/mekanisme khusus untuk transpor melintasi membran sel. Sedangkan pada hidrofilik bersifat polar, sehingga dapat ditembus oleh molekul-molekul atau senyawa kimia lainnya. Maka baik hodropobik maupun hidrofilik sangat berpengaruh pada permeabilitas sel, karena keduanya berfungsi untuk menyaring moleku-molekul atau zat-zat yang akan masuk ke dalam membran plasma.

Comments are closed.