SIKLUS HIDUP
NEMATODA PARASIT TANAMAN ( Meloidogyne spp. )

Nama : Ismawati
NRP : A34080080

Dosen Pengajar :Dr. Ir. Supraman M.Si

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Nematoda termasuk filum hewan, didalamnya termasuk nematoda parasit tanaman dan hewan, serta spesies nematoda yang hidup bebas. Nematoda parasit tanaman merupakan parasit obligat, mengambil nutrisi hanya dari sitoplasma sel tanaman hidup. Memiliki ukuran yang sangat kecil, tetapi menyebabkan kehancuran pada tanaman pangan dan hortikultura di seluruh dunia sehingga menyebabkan kerugian milyaran dollar.
Beberapa nematoda parasit tanaman adalah ektoparasit, hidup di luar inangnya. Spesies jenis ini menyebabkan kerusakan berat pada akar dan dapat menjadi vektor virus yang penting. Spesies lain, ada yang hidup di dalam akar, bersifat endoparasit migratori dan sedentari. Parasit migratori bergerak melalui akar dan menyebabkan nekrosis, sedangkan yang endoparasit sedentari dari famili Heteroderidae menyebabkan kehancuran yang paling banyak di seluruh dunia

1.2 Tujuan
Melakukan identifikasi dan mengamati siklus hidup nematoda Meloidogyne spp (nematoda puru akar) mulai dari fase telur, fase juvenil sampai fase dewasa.

BAB II
BAHAN dan METODE

2.1 Bahan yang digunakan adalah:
 Cawan syracus
 Kaca preparat
 Geals objek
 Kawat pemancing
 Air aquades
 Pewarna Acid Fuchsin untuk mewarnai nematoda
 Mikroskop cahaya
 Akar tanaman yang terserang Meloidogyne spp

2.2 Metode:
Metode yang digunakan adalah metode pemancingan dengan mengamati siklus hidup nematoda Meloidogyne spp pada akar tanaman yang terserang, dengan menggunakan pewarna Acid Fucshin yang berfungsi untuk memperjelas bayangan nematoda di bawah mikroskop cahaya.

BAB III
HASIL dan PEMBAHASAN

3.1 Hasil gambar dan literatur
a. Gambar siklus hidup nematoda Meloidogyne yang didapat dari pengama
Fase telur

Fase dewasa Fase juvenil 1

Fase juvenil4 Fase juvenil 2

Fase juvenil 3

b. Gambar literatur siklus hidup nematoda Meloidogyne spp

Keterangan gambar :
Telur satu sel ¬¬– membelah dua (bermitosis) – membelah empat (bermeiosis) – multisel – juvenil 1, membentuk cacing (ganti kulit) – juvenil 2, mulai keluar dari telur (ganti kulit II) – juvenil 3, berjalan di dalam tanah (ganti kulit III) – juvenil 4, betina lebih besar daripada jantan yang menunjukkan akan menggelembung menghasilkan telur kembali.

3.2 Pustaka

Umumnya perkembangan nematoda parasit tanaman terdiri dari tiga fase yaitu juvenil I sampai juvenil IV dan nematode dewasa. Semua spesies nematoda puru akar memiliki siklus hidup yang sama. Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18 – 21 hari atau 3 – 4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin (Agrios, 1996).
Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300- 800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur.
Juvenil tingkat II menetas dari telur yang kemudian bergerak menuju tanaman inang untuk mencari makanan, terutama bagian ujung akar di daerah meristem, larva kemudian menembus korteks akibatnya pada tanaman yang rentan terjadi infeksi dan menyebabkan pembesaran sel-sel. Di dalam akar larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang menjadi makanannya, larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa yeng berbentuk memanjang di dalam kutikula, stadium ke empat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya.
Telur nematoda Meloidogyne spp. berbentuk bulat lonjong dengan ukuran (62-128 mikron) x (30 -50 mikron). Telur-telurnya diletakkan dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh sel-sel kelenjar rektum dan setalah pembuahan telur diletakkan dalam glatin dan dilepaskan secara bergerombol melalui vulpa. Tidak ada telur yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam tubuh nematoda. Larva instar I berada dalam telur dan menetas menjadi larva instar II (375-500 mikron) x (12-15 mikron) dan larva ini bergerak diantara sel-sel tanaman dan tiba didekat silinder pusat, di tempat tersebut larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang akan menjadi makanannya, larva melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua dan ketiga kalinya tampa makan, selanjutnya menjadi jantan dan betina dewasa.
Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3 -0,4 mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12 – 15 mm melengkung kearah dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, sedangkan nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah, panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.
Nematoda puru akar memiliki banyak tanaman inang dan menyerang sebagian besar tanaman yang dibudidayakan, hampir semua tanaman sayuran dan lebih dari 1700 spesies tanaman lainnya. Meloidogyne spp. merupakan salah satu patogen bawah tanah yang menjadi kendala dalam pengembangan sayuran tingkat tinggi di daerah tropis dan inang utamanaya adalah wortel, mentimun, labu, kentang, kubis, terong, bayam dan tomat. Akibat kemampuannya dalam mneginfeksi relatif lebih besar dan kisaran tanaman inang yang luas maka Meloidogyne spp. merupakan genus penting dari nematoda parasit tanaman. Tanaman yang terserang menjadi kurus, kerdil, hasil rendah dan kualitas berkurang (Hussey et al., 2002).
Menurut Agrios (1996), bahwa nematoda puru akar dapat menyebar dengan perantara partikel tanah, alat pertanian, air irigasi, banjir atau drainase, kaki hewan dan badai debu yang menyebarkan nematoda secara lokal, sedangkan untuk yang jarak jauh melalui produk pertanian dan bibit tanaman.
Nematoda puru akar secara ekonomi cukup penting pada tanaman Solanoceae terutama di daerah tropis. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 500 – 800 larva Meloidogyne sp perkilogram tanah dapat menurunkan produksi Solanoceae sebesar 40 %.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah. Suhu mempengaruhi perkembangan nematoda terhadap penetasan telur, reproduksi, pergerakan dan perkembangannya. Pada umumnya parasit tanaman tidak aktif pada suhu rendah yaitu 5 – 15 oC dan suhu tinggi yaitu 30 – 40 o C, suhu 25 – 28 o C adalah suhu optimum untuk infeksi multiplikasi serta peningkatan puru
Tipe tanah mempengaruhi perkembangan nematoda mislnya sifat tekstur, aerasi, kelembaban, pH, kandungan bahan organik dan anorganik tanah. Nematoda membutuhkan kelembaban yang lembab dan aerasi yang baik. Aerasi berhubungan erat dengan kandungan air tanah, aerasi akan menurun dengan meningkatnya kandungan air tanah sehingga ketersediaan oksigen dalam tanah berkurang. Pertukaran udara dalam tanah mempengaruhi pernafasan nematoda. Perkembangan nematoda akan baik jika keadaan udara dalam tanah cukup. Pada kondisi oksigen rendah dapat menghambat perkembangan dan penetasan telur. Produksi dan pergantian kulit nematoda kebanyakan sangat sensitif terhadap oksigen yang rendah, sedangkan dampak terhadap penetasan telur kurang peka (Cook et al., 2002).
Puru akar merupakan ciri khas dari serangan nematoda Meloidogyne. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman sel-sel ini membesar dua atau tiga kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan mengakibatkan pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil (Robert et al., 1999) .

BAB IV
KESIMPULAN

Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18 – 21 hari atau 3 – 4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin. Pada kondisi biasa betina dapat menghasilkan 300- 800 telur dan kadang-kadang dapat menghasilkan lebih dari 2800 telur.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Agrios. G.N.1997. Plant Pathology. 4th ed. Academic Press, Toronto.
Cook. R & G.R. Noel. Cyst Nematodes : Globodera and Heterodera species. In. Starr.
J.L ; R. Cook & J. Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic
Nematodes. CABI Publishing.
Hussey. R.S & G.J.W. Janssen. Root-knot Nematodes Meloidogyne species. In. Starr.
J.L ; R. Cook & J. Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic
Nematodes. CABI Publishing.
Roberts. P.A. Concepts and Consequences of Resistance. In. Starr. J.L ; R. Cook & J.
Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic Nematodes. CABI
Publishing.
[Anonim]. 2009. Nematoda Puru Akar-http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/nematoda-puru-akar-meloidogyne-sp.html (22 November 2009)
[Anonim]. 2009. PENGGUNAAN TANAMAN RESISTEN: Suatu Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman-http://library.usu.ac.id/download/fp/hpt-lisnawita.pdf
(22 November 2009)

Comments are closed.